Dewan Musyawarah Masyarakat Adat Koteka (DeMMAK) – Confederation of Melanesian Tribes for Melanesian Heritage Conservation and Sustainable Living across Melanesian Archipelago and beyond.
Koteka adalah pakaian adat tradisional khas pria Papua, khususnya di wilayah pegunungan seperti suku Walak, Yali, Hupla, dan Lani, yang berfungsi menutup alat vital. Terbuat dari kulit labu air yang dikeringkan, berbentuk memanjang, dan diikatkan pada pinggang.
Bagi masyarakat Hubula (Dani) di Lembah Baliem, bentuk holim berkaitan dengan status pemakainya. Koteka dengan ujung melengkung ke depan (kolo) dipakai oleh Ap Kain (pemimpin konfederasi), koteka yang melengkung ke samping (haliag) dipakai golongan menengah seperti Ap Menteg (panglima perang) atau Ap Ubalik (tabib atau pemimpin adat). Sedangkan koteka yang bentuknya tegak lurus digunakan oleh masyarakat biasa.
Setiap suku memiliki perbedaan bentuk koteka. Orang suku Yali, misalnya, menyukai bentuk labu yang panjang untuk humi mereka.[3] Sedangkan orang Lani di Tiom biasanya memakai dua labu untuk membentuk kobeba. <Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas>
Koteka melambangkan harga diri, status sosial, dan identitas budaya pria Papua.
“Koteka” dikenakan tidak hanya di West Papua (Indonesia) akan tetapi juga sepanjang Pegunungan Bintang (Star Mountains) di pulau New Guinea, dari Pegunungan Arfak bagian barat pulau sampai
Karakteristik dan Makna Koteka:
Bahan: Dibuat dari labu air (Lagenaria siceraria) yang sudah tua, dibersihkan isinya, lalu dikeringkan hingga keras dan awet.
Variasi Bentuk: Bentuk dan panjang koteka berbeda-beda antar suku dan menunjukkan status sosial. Misalnya, pemimpin adat atau panglima perang sering mengenakan jenis tertentu yang berbeda dari masyarakat biasa.
Simbol Budaya: Digunakan dalam upacara adat, festival, dan sebagai penanda kedewasaan.
Nama Lain: Kata koteka adalah nama dalam bahasa Melayu-Indonesia, sementara pada umumnya di suku Hubula dikenal sebagai holim atau horim/bobbe, dalam bahasa Lani sebagai Kebewak, dan dalam bahasa Walak dengan nama Kebe.
Meskipun modernisasi telah masuk, penggunaan koteka masih dipertahankan untuk upacara adat dan sebagai ikon budaya Papua yang mendunia.
Koteka telah menjadi simbol indentitas budaya orang New Guinea secara keseluruhan. Setiap orang yang melihat “Koteka” pasti menyebut “New Guinea”.
Selain perbedaan ukuran atau bentuk Koteka ditentukan oleh status sosial, ada juga ditentukan oleh waktu pemakaian (siang dan malam) atau juga tergantung pada peristiwa atau kegiatan.
Pemakaian koteka sering menandakan status sosial seseorang dalam suku tertentu. Ukuran dan bentuknya bisa berbeda juga tergantung pada suku, usia, dan kegiatan yang dilakukan. Misalnya, dalam upacara adat, jenis kotekanya berbeda dengan yang dikenakan setiap hari. Koteka juga sering dihiasi dengan bulu burung cenderawasih atau ukiran sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
“Koteka bukan hanya pakaian, tetapi identitas. Di era modern, siapa yang memakai koteka, dia sedang berbicara kepada dunia bahwa dia adalah orang Asli Papua.”
Makna dan Fungsi dari Pakaian Adat Papua
Pada umumnya, makna dari pakaian adat Papua ini mempunyai nilai-nilai yang baik untuk penggunaannya. Mulai dari nilai kepemimpinan, kebersamaan, kebanggaan, kebesaran, dan lain sebagainya.
Maka dari itu, pakaian adat ini cukup penting bagi kehidupan suku di wilayah pegunungan tengah Papua. Di bawah ini akan menjelaskan mengenai makna dan fungsi Koteka yang lebih umum.
- Simbol Kedewasaan
Makna dan fungsi yang pertama adalah sebagai simbol kedewasaan seorang pria yang ada di Papua. Selain itu, terkadang juga mempunyai fungsi lain. Misalnya untuk menyimpan uang pemakainya.
Biasanya, pembuat baju adat ini melapisinya dengan daun. Kemudian, uang tersebut diletakkan di ruang yang masih tersisa dalam pakaian adat ini.
- Baju Adat Papua sebagai Penanda Suku Asal
Menurut sebagian penduduk asli Papua, pakaian adat ini tidak hanya sekedar pakaian tradisional. Akan tetapi, juga mempunyai makna yang lebih mendalam. Salah satunya ialah sebagai penanda suka asal dari pemakainya.
Hal itu karena setiap suku di pedalaman Papua memiliki bentuk dan cara penggunaan yang berbeda-beda. Dengan begitu, akan lebih mudah mengenali antara satu suku dengan lainnya.
Selain itu, terkadang penggunaannya juga bisa dilihat dari aktivitas yang hendak pemakai lakukan. Jadi, hanya perlu melihat dari bentuk dan cara penggunaan pakaian adatnya jika ingin mengetahui apa yang akan dilakukan.
Sedangkan, koteka untuk perempuan tidak ada. Hal itu karena pakaian adat untuk perempuan menggunakan rok rumbai.
- Cinderamata Khas Papua
Saat ini, penggunaan pakaian adat ini semakin jarang ditemui. Hal itu karena sudah banyak dari penduduk Papua yang mengikuti perkembangan zaman dengan menggunakan pakaian modern.
Meskipun begitu, pakaian adat ini tetap bisa kamu temukan di Papua, karena kebanyakan dijadikan sebagai souvenir.
