Koteka dari Tanaman Prasejarah

Posted on 2 January 2020 by firman

Praktik budi daya pertanian di Lembah Baliem dimulai pada 7.000 tahun silam.

Koteka adalah “pakaian” khas penduduk asli Papua, khususnya pria suku Lani, Hubula, Yali, Walak, Nduga dan sekitarnya. Koteka terbuat dari kulit tanaman labu air yang dikeringkan. Dalam bahasa Dani, koteka disebut holim. Namun ternyata labu air yang dijadikan bahan koteka itu termasuk tanaman prasejarah.

Berdasarkan cerita rakyat yang dapat dipercaya, suku-suku di Lembah Baliem, dan sekitarnya di pegunungan Jayawijaya, Papua, mengenal tanaman labu air atau Lagenaria siceraria secara tak sengaja. Awalnya, benih labu air yang menjadi bahan baku koteka itu dibawa oleh seekor anjing.

“Bibit labu air ini terdapat pada lipatan telinga seekor anjing. Kemudian, bibit itu diambil dan ditanam. Hasilnya adalah tanaman labu air atau labu koteka,” ujar peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, kepada Tempo, melalui surat elektronik, Selasa lalu.

Labu atay dalam bahasa Lani dan Walak disebut “Nggiyo” atau “Nggio” adalah salah satu jenis tanaman yang dibudidayakan pada masa prasejarah. Lantas, yang menjadi pertanyaan, sejak kapan masyarakat pegunungan tengah Papua mulai mengenal budi daya pertanian, khususnya labu air.

Pada 1991, seorang peneliti asal Australia, Simon Haberle, menganalisis sisa serbuk sari buah merah di rawa Kelela, Lembah Baliem. Hasilnya, Haberle berkesimpulan bahwa praktik budi daya pertanian di Lembah Baliem dimulai pada 7.000 tahun silam.

Tanaman yang dibudidayakan saat itu adalah keladi, pisang, buah merah, tebu, dan kelapa hutan. “Labu air juga dibudidayakan,” kata Hari. “Awalnya hanya dikonsumsi. Namun lantas dijadikan sebagai koteka dan menjadi identitas suku-suku di pegunungan tengah Papua.”

Sementara itu, masyarakat di dataran tinggi Papua Nugini mengenal budi daya pertanian sejak 8.000 tahun silam di rawa Kuk. Hanya, koteka tak dikenal di Papua Nugini.

Mengenakan koteka bagi masyarakat pegunungan tengah Papua adalah hal lumrah dan merupakan tradisi berpakaian sehari-hari. Tapi, bagi masyarakat modern, cara berpakaian seperti itu dianggap memprihatinkan. Sebab, menurut Hari, koteka hanya sekadar menutupi kemaluan, sementara bagian tubuh lainnya dibiarkan terbuka.

Koteka biasanya dikenakan bersama perhiasan lain yang dipakai di leher, pergelangan tangan, pergelangan kaki, dan kepala. “Perhiasan di leher berupa dasi yang terbuat dari kulit kayu yang ditempeli kulit kerang kecil-kecil berwarna putih yang disebut walimo,” ucap arkeolog lulusan Universitas Udayana, Bali, itu.

Adapun perhiasan pada pergelangan tangan berupa rangkaian manik-manik kecil warna-warni atau gelang anyaman rotan halus. “Perhiasan ini sama dengan yang dipakai pada pergelangan kaki,” kata Hari.

Sedangkan perhiasan pada kepala berupa lingkaran rambut palsu semacam topi yang terbuat dari serat kulit kayu dengan bulu burung warna-warni. Selain mengenakan perhiasan tersebut, mereka memakai hiasan tubuh lainnya, yaitu pewarna dari tanah liat di wajah, punggung, lengan, dan paha.

Bentuk koteka berbeda-beda, bergantung pada wilayah asal. Suku Dani, contohnya, memakai koteka berukuran kecil, sedangkan suku Yali memakai koteka panjang dan ramping yang diikat pada pinggang. Adapun koteka milik suku Lani lebih besar dan pendek.

Berbeda dengan kaum laki-laki, pakaian tradisional perempuan suku Dani ada dua jenis, yaitu pakaian wanita yang masih gadis atau disebut sali dan pakaian wanita yang sudah bersuami, yang disebut yokal.

“Sali berbentuk rumbai-rumbai atau rok yang terbuat dari rumput atau serat pakis,” kata Hari. Sedangkan yokel, yang terbuat dari serat kulit kayu, berbentuk untaian yang menutupi pangkal paha dan kemaluan dari bagian depan. Berbeda dengan pria, wanita suku Dani jarang menggunakan perhiasan pada tubuhnya.

Sali atau yokal biasanya dipakai dalam acara adat atau festival budaya. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan pegunungan tengah Papua memilih mengenakan rok modern yang mereka beli di pasar.

Kami menyampaikan terimakasih sedalam-dalamnya dan mengirimkan berkat Koteka kepada: MOH. KHORY ALFARIZY


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.